Serial Kaki di Jalan Pinggir

hidup di jalan pinggir.
berteman dengan aspal dan jalan terjal.
dokumentasi kehidupan.
kata, gambar, kamar gelap.
warna warni, hitam putih.

dua pasang kaki di trotoar yang sama.

Wayang kulit di Bali memiliki ciri khas tersendiri, yaitu menggunakan obor tepat di depan wajah sang dalang. Dialek Bali terlontar dari bibirnya. Dengan iringan gamelan khas Pulau Dewata, cerita yang sedang ia lantunkan terasa begitu nyata.

FOTO Muhammad Fadhurahman
TEKS Candella Sardjito

Seringkali orang salah mengartikan nama tempat ini. Kata “padang” yang melekat di dalamnya memang identik dengan ibukota Sumatera Barat.

Sebenarnya istilah “padang” merupakan sebuah singkatan dalam bahasa Sunda yang digunakan para warga setempat.
Istilah itu berasal dari kalimat papadang-papadang urang, yang berarti penerang bagi kita semua. Situs Gunung Padang memang dilihat sebagai secercah cahaya bagi peradaban Sunda kuno kala itu.

                                                                                       ***

“Panas di atas mah, cuma ada batu aja,” ujar gadis kecil berkerudung biru itu malu-malu. Bibi, demikian nama gadis kecil itu, memang benar.

Situs yang membentang tepat di hadapan kami, memiliki daya tarik tersendiri dengan batu-batu andesit yang bertebaran di sana. Reruntuhan purbakala yang berlokasi di perbatasan Kampung Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Cianjur ini memang tersohor oleh julukan situs megalithikum terbesar dan tertua di Asia Tenggara.

Bibi melangkah ringan di antara tangga terjal batu tersebut. Wajahnya tak terlihat lelah sama sekali. Bahkan sesekali ia menggenggam sebatang bunga ilalang sembari menaiki tangga curam dengan ketinggian antara 40 – 50 
sentimeter.  Ia berjalan lincah tepat di sebelah suara tersengal napas kami yang sedang mencoba mendaki tangga curam tersebut.

“Bibi sih tiap hari nyapu-nyapu aja di atas, beberes sampah di sana,” ujar Bibi sembari menunduk perlahan.


Begitu menapaki area pelataran sang situs purbakala, hamparan bebatuan andesit berwarna hitam menyambut hangat kedatangan kami. Jika boleh disejajarkan, situs ini mirip dengan Stonehenge yang terdapat di Wiltshire, Inggris. Hanya bedanya, di situs Gunung Padang ini, kami jarang menemukan batu yang berdiri sempurna, bahkan keberadaannya cenderung berantakan.

“Batu-batu di sini kemiringannya memiliki sudut dengan kelipatan 5,” ujar Pak Nanang, salah seorang pria berbaju hitam. Ia telah menyambut kami dengan ramah di pintu gerbang.


“Selain itu, situs ini juga terdiri atas
lima undakan dengan bentuk mengerucut. Bahkan terdapat lima gunung yang mengelilingi Gunung Padang dan lima gunung pula yang sejajar dengannya.” Penjelasan pria berikat pulasara ini mengingatkan kami akan Candi Borobudur yang juga memiliki berbagai tingkatan dalam segi arsitekturnya.


Selain kisah “serba angka lima”, Gunung Padang memiliki keanehan lainnya. Terdapat beberapa batu unik yang teronggok manis di sini, salah satunya adalah batu musik. Ukurannya cukup besar, menyerupai alat musik kecapi dalam gamelan Sunda.

Di bagian bawah, terlihat rongga berlekuk yang menghiasi batu berwarna abu tersebut. Bila dipukul perlahan dan beraturan, layaknya gerakan tangan di atas tuts piano, batu itu akan
mengeluarkan nada yang berbeda. Posisi batu-batu musik ini pun beraturan, terdapat dalam satu area.

“Mirip seperti setting panggung kalau ada acara konser, ya? Ha-ha,” kelakar salah seorang pengunjung sembari memainkan batu-batu itu perlahan.


Beranjak menaiki satu undakan dari pelataran Gunung Padang, kami pun menemui tanah lapang dengan satu area tanah berwarna merah. Sebuah batu unik lainnya ikut menghiasi tanah
yang masih terasa agak lembek itu.

“Beratnya 80 kg, konon katanya kalau bisa ngangkat sih, permintaannya dikabulkan,” ungkap Pak Nanang sambil menatap wajah penasaran kami.


Beberapa dari kami coba untuk mengangkat sang batu “bertuah”. Satu orang, dua orang, tak semua sanggup melakukannya. “Berat banget, sampai saya jatuh ketimpa batu,” sahut Rijal, salah seorang pengunjung yang tak berhasil mengangkat batu ajaib tersebut.


Sedikit kisah legenda pun turut membumbui kisah di balik terbentuknya objek wisata sejarah tersebut. Situs ini berkiblat pada Gunung Gede yang menyimbolkan keagungan Tuhan pada masa lalu. 

Konon, menurut warga setempat, Prabu Siliwangi
sering bertapa di area simetris dan menjadi titik tengah antara Pantai Selatan dan Pantai Utara ini. Meskipun masih menjadi pro kontra di kalangan sejarawan, sosok tokoh Sunda itu memang sangat disegani. Tak heran bila masih banyak masyarakat yang berkunjung ke Gunung Padang untuk urusan peribadatan, bahkan hingga detik ini.

Legenda, tak pernah lepas dari kata misteri. Unsur mistis pun ikut menambah keunikan situs purbakala ini. “Katanya sih banyak yang mendengar musik gamelan Sunda dari sana setiap malam Jumat,” ungkap Pak Nanang.


Dari kisah misteri tersebut, terdapat pula beberapa pantangan ketika mengunjungi Situs Gunungpadang ini. “Tidak boleh mencoret-coret batu, tidak boleh membuang sampah sembarangan, dan tidak boleh memukul-mukul batu,” demikian penjelasan pria berlogat Sunda kental tersebut
.

Kelak, Gunung Padang dengan luas sekitar 25 ha ini akan memiliki museum tersendiri. Menurut penduduk setempat yang menganut kepercayaan leluhur, pusaka-pusaka hasil pertapaan di Gunung Padang akan dipamerkan dalam sebuah gua yang sedang digali di antara tanah merah tersebut. Fungsinya adalah memperkenalkan kisah di balik situs purbakala yang terkenal kental akan unsur mistis ini. (***)

FOTO Muhammad Fadhurahman
TEKS Candella Sardjito


Sosok-sosok makhluk bertanduk kekar berdiri kokoh di atas mobil bak putih itu. Mereka menanti giliran untuk maju ke medan laga. Bak raja yang akan turun ke medan perang, kalung merah menjuntai di leher-leher hewan mamalia ini.

Perlahan,
mereka menuruni kendaraan roda empat tersebut menuju gundukan tanah di Babakan Siliwangi, Bandung.

Jarum jam
mengarah tepat ke angka sembilan, pertandingan akan segera dimulai. Terlihat para pengunjung dari beragam kalangan mulai memadati tanah lapang yang terletak tepat di belakang area lari Sasana Budaya Ganesha. Pagar kayu itu membentuk sebuah segi empat dengan luas kurang lebih 10 meter persegi . Bangku panjang serta tribun kayu menghiasi arena “perang” tersebut.

 Acara yang rutin diadakan sebulan sekali ini dibuka oleh narasi dari sang pembawa acara, serta diiringi alunan musik tradisional Sunda. Mulailah para domba ini memasuki arena pertarungan, mengambil ancang-ancang dan saling mengadu kekuatan tanduknya yang melingkar kokoh di kepalanya.

Tampak tiga orang pria bercelana pangsi bertugas menjadi wasit kompetisi adu domba ini. Ditemani oleh topi koboi, mereka berdiri di tengah lapangan dan serta merta menjaga keadaan para domba yang sedang bertarung.

Bila terdengar aba-aba “perawatan” dari suara di balik sound system, para wasit dalam arena pun langsung memisahkan kedua domba ini. Pria-pria ini memijat dan kembali memindahkan para domba ke tengah arena.


Biasanya, para domba jantan ini dibiarkan saling mengadu kekuatan tanduknya hingga 20 kali hentakan. Namun banyak dari domba yang bertarung merasa tak sanggup menandingi lawannya. Sebelum terjadi cedera yang lebih parah, para wasit pun menghentikannya saat itu juga. 
Gerakan serta hantaman keras pun kian menghibur mata pengunjung. Ternyata, tak semua domba petarung ini memiliki nyali yang tinggi. Salah satu ekor domba petarung berwarna putih tiba-tiba saja melarikan diri, sampai melompati pagar kayu. Para penonton pun berteriak histeris. Peta kekuatan yang ia hadapi terasa lebih berat. Ia pun menyerah sebelum turun ke medan perang.

Pada awalnya, warisan budaya Sunda ini telah tenar terlebih dahulu di Garut, Jawa Barat. Ternyata, hal tersebut mengambil perhatian warga kota kembang. Banyak pemilik domba jantan ini berasal dari Bandung, seperti daerah Gegerkalong dan Soreang.

Namun
kompetisi domba di Babakan Siliwangi berbeda dengan adu domba pada umumnya. Tak ada istilah “saweran” atau taruhan dalam kompetisi ini. Tujuannya hanya untuk hiburan dan ajang silaturahmi semata.

Sebuah gejolak batin muncul seketika saat menonton kompetisi adu domba ini
. Di satu sisi pertarungan antar domba ini tampak mengusik nurani beberapa penontonnya.

“Kasihan, harus melihat dua domba saling berantem gitu,” ujar Izmy, salah satu wanita muda yang duduk di jajaran terdepan bangku penonton.

 

Namun di sisi lain, kegiatan ini merupakan sebuah warisan budaya yang telah bertahan sejak lama. Secara naluriah, domba memiliki kepribadian dan jiwa “petarung”. Tak heran bila kegiatan adu domba masih berlangsung hingga detik ini. Dengan memanfaatkan karakter domba jantan, manusia menjadi fasilitatornya.

Jadi, sudut pandang manakah yang akan
Anda pilih? Warisan budaya ataukah rasa peduli terhadap anggapan eksploitasi fauna di dunia – khususnya di Indonesia? (***)

Seringkali Garut dijuluki sebagai Swiss van Java berkat kondisi alamnya yang dingin dan dekat pegunungan. Puncak Darajat menjadi salah satu kekayaan daerah ini. Air panas, pemandangan yang cantik serta udara sejuk memanjakan para pelancong yang ingin berelaksasi.

FOTO Muhammad Fadhurahman
TEKS Candella Sardjito

Kuning kehijauan dengan batang keras dan kokoh. Demikian karakter bambu, sebuah tanaman rerumputan yang memiliki rongga dan ruas di batangnya.

Julukan bambu memang sudah menahun melekat dengan negeri di Asia Timur, tapi sebenarnya tumbuhan ini berkaitan erat dengan tradisi Indonesia, terutama dalam bidang kesenian.

Hal ini terbukti jelas ketika Minggu (02/10) lalu kami menghadiri sebuah perhelatan akbar bertajuk Bambu Nusantara 2011, yang diadakan pada tanggal 1-2 Oktober 2011 di SABUGA Bandung, Jawa Barat.

Alunan lagu “Heal The World” dengan suara khas angklung elektronik menjadi penghias area gerbang masuk kerajaan bambu Indonesia ini. Mata kami terbuai seketika oleh area photo-booth Bambu Nusantara, yang juga dikelilingi mannequin berkostum tema bambu.

Mulailah kami menelusuri jejak-jejak bambu yang bertebaran di sana. Jalan menuju panggung utara dihiasi oleh booth yang dominan akan bambu, salah satunya adalah Komunitas Hong dan DESAIN KAREUMBI. Sedangkan salah satu booth yang ikut mengisi jalur menuju panggung selatan adalah stand milik kampus ITENAS dan juga Seniman Bangun Pagi.

Kali pertama kami memasuki area “kerajaan” bambu ini, alunan Komunitas Hong dari panggung utara menyambut kami dengan riang. Komunitas ini memang tersohor sebagai pecinta permainan tradisional yang menggunakan bambu dalam proses produksinya.



Petang hari kian menyambut. Tertera nama Ozenk Percussion dan Dwiki Dharmawan sebagai pengisi acara berikutnya. Dome area menjadi pilihan tepat untuk menampilkan kolaborasi cantik ini. Kami pun sampai harus mengorek kocek sebesar Rp50.000 demi menyaksikan musisi bertalenta yang tersembunyi di dalamnya.

Grup perkusi yang dimotori Ozenk, salah seorang mantan anggota grup Krakatau, melagukan irama eksperimental bermaterial bambu. Salah satunya lodong, gabungan batang bambu yang dipukul dan bersuara menyerupai bunyi petikan bass. Kokol, sebuah alat musik bambu yang terinspirasi dari bentuk kentongan, juga terdapat di sana. Rangkaian harmoni jenius pun tercipta, diiringi oleh paranggong, angklung, kendang, perkusi, terompet, hingga permainan piano Dwiki Dharmawan yang begitu memukau.

Tepat pukul setengah tujuh malam, Bli Balawan, seorang musisi piawai Indonesia, telah menanti di panggung utama geraian Bambu Nusantara ke-5 ini. Diiringi oleh Gamelan Maestro Project bernuansa musik Bali, Balawan menampilkan teknik Touch Tapping Style yang begitu memukau, seakan bermain gamelan menggunakan gitar. Selain itu, senjata pamungkasnya, gitar double neck pun mengundang decak kagum para hadirin yang menyaksikan pertunjukan ciamik ini.

Sejumlah tembang pintar mahakarya pria bernama lengkap I Wayan Balawan ini menghiasi gigs kedua dalam rangkaian Bambu Nusantara. Mulai dari tembang “Menari” hingga “World’s Left in Bali” terdengar begitu mengena ke dalam hati kami. Ditutup oleh tembang manis berjudul “Jayaprana” yang mengisahkan legenda cinta rakyat Bali antara Jayaprana dan Ni Layonsari, penampilan gitaris Jazz terkemuka ini begitu segar dan membuka mata hadirin akan musik tradisional yang tak lagi kuno.

“Ini adalah ajang para musisi tradisional untuk unjuk gigi. Semoga kelak musisi tradisional bisa sejajar dengan musisi-musisi modern masa kini,” ungkap Balawan dengan logat Bali yang kental.

 

Panggung utama kembali diisi oleh penampilan musisi bertalenta lainnya. Kali ini, Risa Saraswati alias Sarasvati lah yang berkesempatan berada di pentas Bambu Nusantara 5. Dengan kebaya merah menyala, wanita bersuara lembut ini membuka “kisah”nya bersama permainan angklung SMA Pasundan 2 yang ciamik. Suasana gloomy yang identik dengan musik Sarasvati tercipta seketika. 

Enam tembang andalannya telah ia lantunkan. Salah satu tembang bertajuk “Bilur” yang disertai nyanyian khas sinden Sunda membuat bulu kuduk kami merinding. Terlebih lagi ketika seorang berkostum putih-putih dan berambut hitam panjang ikut pula memeriahkan penampilan Sarasvati dengan turun dan membaur bersama penonton. 

Sebelum menikmati penutupan acara Bambu Nusantara ini, kami menyempatkan untuk mengintip panggung yang terletak di luar Dome. Terdapat Wallaki, kolaborasi musisi beraliran etnik dari Australia, Chille dan Indonesia, yang menghiasi panggung selatan bersama instrumennya yang luar biasa unik. Salah satunya adalah sada tanah yang terbuat dari material genting.

Selain Wallaki, Bambu Wukir pun turut menghiasi panggung sebelah utara Bambu Nusantara. Dengan bebunyian alami yang ditimbulkan oleh instrumen unik bermaterial bambu, irama folk kental pun membuat penonton tercengang. Dengan batang bambu yang diberi senar di sekelilingnya, cara memainkannya pun cukup bervariasi. Dipetik, digesek seperti biola ataupun teknik tapping berlaku di sana. Absurd sekaligus mengagumkan.

Penampilan Sawung Jabo, seorang seniman sekaligus musisi tersohor Indonesia, menjadi penutup luar biasa dalam acara Bambu Nusantara ini. Setelah sekian lama seniman yang terlahir dengan nama Mochamad Djohansyah tak tampil di dalam negeri, akhirnya ia pun kembali berkarya di pentas tanah air. Dalam perhelatan musik bambu ini, Sawung Jabo menggaet Sirkus Barock untuk bermusik bersama. Irama yang penuh akulturasi antara elemen Barat dan Timur pun terasa sangat kental dalam penghujung gelaran yang rutin diadakan setahun sekali ini.

Sebuah perjalanan menyusuri kerajaan bambu nusantara yang sangat berharga. Tak ayal lagi, bambu menjadi salah satu aset berharga bagi Indonesia, tak hanya sebagai ornamen dekoratif dalam sebuah bangunan saja, tetapi bernilai kesenian yang sangat tinggi. Maju terus kesenian Indonesia, salut untuk Bambu Nusantara 5! (***)

Jalan pinggir masih ada, dan akan selalu ada.
Dua pasang kaki di trotoar yang sama.

The world is a book, and those who do not travel read only one page ~ St. Augustine

Photo was taken by Muhammad Fadhurahman at Dompu,Sumbawa Island.

The world is a book, and those who do not travel read only one page ~ St. Augustine

Photo was taken by Muhammad Fadhurahman at Dompu,
Sumbawa Island.

FOTO Muhammad Fadhurahman
TEKS Candella Sardjito

Warna hitam yang membalut sang tubuh seakan menjadi judul dalam penampilan singkatnya pada Minggu (08/05) pagi yang cerah ini. Tak lupa dengan lantunan instrumen tradisional Sunda, pementasan magis nan singkat menghiasi pelataran Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Bandung.

Kami, yang bersatu dalam kerumunan penonton, mulai mengelilingi saung - saung di bilangan Dipati Ukur tersebut. Saung ini merupakan tempat singgah para personil Karinding Buhun atau yang akrab disapa dengan Karuhun.

Irama mulai memasuki klimaks. Sosok hitam-hitam dengan kepala terikat pulasara pun menggerakkan badannya seketika.
Tanpa menggunakan alas kaki sedikitpun, pria berkulit kuning kecoklatan itu berjalan menuju sisi tengah dalam panggung aspal.

Sesaat, wajah tersebut berubah bengis dalam secepat kilat, seolah-olah sesosok tokoh penuh angkara murka merasuki pikirannya. Berbagai kalimat berbahasa Sunda “Baheula” pun mulai terurai dari mulutnya.

“Hey, manusia, geura tutup mata lahir, geura buka mata batin!” teriak sang pelantun sembari menunjuk ke arah penonton yang mengelilinginya.

Segeralah buka mata lahir, dan bukalah mata batin, karena mata batin tak pernah berbohong. Begitulah pesan yang ingin disampaikan dari berbagai patahan kalimat dalam pertunjukan teatrikal Sunda ini. Kolaborasi antara seni peran serta seni musik tradisional ini begitu memukau, penuh makna dan tak lekang dimakan jaman.



Tersebutlah nama Dasamuka, lakon yang diperankan oleh Kang Ace Karuhun dalam teater jalanan di Kampung Seniman Bangun Pagi kali ini.

Kang Ace menuturkan, bahwa sifat Dasamuka diadaptasi dari karakter seorang tokoh kisah pewayangan Indonesia, bernama Rahwana, raja dari segala setan atau sifat buruk manusia.

Dalam pertunjukkan Karuhun ini, dikisahkan bahwa Dasamuka ingin merubah diri, dari sebuah sosok dengan penuh “merah” di dalam hatinya, menjadi seonggok makhluk berwarna “putih”, dari sebuah kesalahan, menuju sebuah kebenaran.

Kang Ace menuturkan, bahwa pada dasarnya, setiap makhluk di muka bumi ini memiliki sebuah perasaan bersalah dalam hatinya. Mereka ingin kembali ke jalan yang benar. Namun Dasamuka, raja dari segala setan, tak bisa melakukan semua itu, karena hakikatnya dia telah menjadi sosok jahat.

“Selain itu, Dasamuka pun menghujat manusia, kenapa sampai meniru perilaku dari Dasamuka, walaupun sudah tahu, bahwa Dasamuka adalah sosok yang jahat, iblis dan dapat merusak muka bumi ini,” ujar Kang Ace melengkapi kisah teatrikal tersebut.

Begitu dalam makna yang tersirat, seolah ingin menyampaikan sebuah pesan bagi masyarakat, bahwa dalam setiap diri manusia, karakter Dasamuka selalu membayangi kehidupan kita.

Dasamuka diibaratkan dalam sisi gelap dari seorang manusia, setiap sifat yang wajar bernaung dalam karakter manusia, bisa dikatakan sebagai nafsu atau bisikan-bisikan “negatif” yang menjadi lawan dari kata hati.

Sebuah penampilan singkat yang sangat memikat. Kolaborasi antara irama “magis” dari instrumen bambu tradisional dengan sastra Sunda terdahulu berhasil membuat kami tercengang. Bahasa dan kisah yang menarik serta mudah dimengerti mengemas ringkas pertunjukan pagi itu.

Seakan-akan menyihir para penonton yang berada di sekelilingnya – termasuk kami – untuk merangkumnya dalam tiga kata. Unik, etnik dan ciamik! Cheers! (***)

Jalan Pinggir?

Pinggir jalan sempit ibukota, mungkin kamu akan melihat gang sempit bertahtakan gapura merah di depannya, ya itulah Jalan Pinggir.

Namanya mungkin memang bukan Jalan Pinggir, tapi kami mengambil ide, rumah kami, ada di Jalan Pinggir, pinggir kota, pinggir kemacetan kendaraan, dan pinggir terbenturnya setiap idealitas yang terbentuk di luar sana.

Dan juga, kami - senang berjalan - berjalan-jalan dari satu pinggiran menuju tengah, kemudian memasuki suatu pinggiran kembali.

Dan hidup seperti lingkaran, kawan! Bila kamu tak pernah mencoba berada di sisi pinggir, kamu pun tak akan pernah bersyukur dilahirkan dalam dunia tengah.

Salam kenal. Penghuni Jalan Pinggir.

- Panda & Biri-biri